Minke..anak bangsa yang hatinya terketuk

Standar

Sebelum mencoba mereview buku kedua seri Tetralogi Buru yang berjudul Anak Semua Bangsa ini, saya akan sedikit bercerita tentang awal perkenalan saya dengan Maha Karya Pramoedya Ananta Toer ini. Tahun lalu, URWF mengangkat  This Earth of Mandkind sebagai tema besar. Kali itu juga saya pertama kali mendengar judul This Earth of Mandkind yang berarti Bumi Manusia.

Membaca judulnya saja belum cukup membuat saya tertarik untuk membeli dan membaca keseluruhan halamannya. Rasa penasaran baru menggelitik pada saat mengetahui bahwa buku ini sudah diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa asing, sempat dilarang peredarannya di Indonesia dan memperoleh berbagai penghargaan di dunia Internasional.

Saya kemudian berpikir, kalau ini dilarang pasti ada hal atau pemikiran besar didalamnya yang dianggap mengancam penguasa kala itu, pasti isinya sangat dahsyat sehingga diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa dan sangat hebat karena dihargai di dunia internasional. Selain itu, tema feminisme yang diangkat melalui sosok Nyai Ontosoroh didalamnya semakin menambah rasa penasaran saya.

Jadilah kemudian saya berburu buku ini yang katanya sudah langka di pasaran. Dan memang betul karena untuk mendapatkan seri pertama saya harus menitip beli ke teman yang berkunjung ke Jawa. Bumi Manusia sudah tamat sejak bulan Maret. Mei ini saya menamatkan Anak Semua Bangsa. Buku ke dua dari Tetralogi Buru.

Tetralogi Buru merupakan buku yang berjendre Roman Percintaan dan juga perjuangan menurutku. Jika di buku pertama berkisah tentang percintaan Antara Minke dan Annelise, pada buku ke dua ini lebih kepada pencarian jati diri Minke atas dirinya sebagai anak sebuah bangsa yang bernama Hindia.

O iya, alasan lain mengapa saya tertarik dan suka buku ini adalah karena kegemaran Minke menulis-seperti impian saya menjadi penulis. Dengan membaca buku ini saya semakin suka dengan dunia tulis menulis. Saya jadi banyak faham bahwa ada cara lain dalam melakukan perlawanan atas sebuah kekuasaan yang menindas selain dengan mengangkat senjata. Intelektulitas yang tertuang dalam ketajaman dan kehumanisan sebuah tulisan pun bisa menjadi sebuah senjata yang menggetarkan lawan.

Diceritakan bahwa Minke yang sebelumnya hanya menulis dalam bahasa Belanda ditantang oleh sahabatnya Jean Marais untuk menulis dalam bahasa ibunya yaitu Melayu. Minke perlu menulis dalam bahasanya sendiri agar melalui tulisan itu bangsanya yang sudah lama tertindas juga bisa menjadi terpelajar seperti dirinya.

Cerita kemudian berlangsung ke masalah pencarian jati diri bangsa. Minke turun ke bangsanya untuk melihat langsung kondisi saudara-saudaranya dibawah tekanan kolonial Belanda. Minke mulai menulis tentang kisah hidup dan penderitaan mereka terutama penderitaan petani-petani buruh pabrik gula di Tulangan. Minke menulis tentang ketidakadilan, kesedihan, dan ketidakberdayaan serta penindasan yang dirasakan masyarakat. Bagaimana tanah mereka yang diwariskan turun-temurun kemudian harus mereka lepaskan untuk dijadikan kebun tebu penyuplai pabrik gula Hindia Belanda.

Selain bercerita mengenai perjuangan batin Minke, pun terkisah mengenai bagaimana sengitnya perlawanan Nyai Ontosoroh atas kuasa Eropa yang merampas kehidupannya melalui proses peradilan dan hukumnya yang tidak berpihak ke pribumi. Meskipun akhirnya kalah, toh Nyai Ontosoroh –wanita yang diagungkan Minke sebagai guru besarnya- tetap melakukan perlawanan dengan senjata terakhir yang masih dimilikinya dan akan terus begitu yaitu dengan mulut, dengan pemikirannya.

Karya Pramoedya Ananta Toer ini memang betul adalah karya sastra besar yang sejatinya mendapatkan tempat dan penghargaan dari kita saudara sebangsanya, karena kalau di dunia internasional hal itu tak diragukan lagi.

Selain kaya akan pesan moral bagi saya buku ini juga memperkaya kosakata-kosakata bahasa Indonesia yang sudah jarang saya jumpai dalam buku terbitan-terbitan terbaru serta menambah pengetahun sejarah tentang dimana bangsa ini bermula. Pramoedya membahas dengan detail konflik dan permasalahan pribumi dengan menggunakan bahasa yang kadang serius dan itu tadi istilah-istilah yang konvensional yang jarang ditemui lagi.

Meski buku ini berpenampakan tebal dengan 724 halaman, percayalah sekali anda memegangnya anda akan sulit untuk terlepas dari alur kisah hidup Minke.

Image

Nb: Membuat review ini adalah salah satu rangkaian kegiatan #bacaituseru

Menjelang Due Date

Standar

Saat saya hamil Jiro anak pertama kami, saya mulai banyak cari tahu informasi seputar kehamilan baik lewat buku maupun internet. Masuk ke banyak situs ibu dan anak yang berbeda setiap harinya, hanya untuk mencari tahu lebih jauh tentang kehamilan, melahirkan, menyusui dan perawatan bayi. Semua kasus-kasus, masalah-masalah yang dibahas dalam forum diskusi tidak jarang kemudian menjadi bahan diskusi saya dan suami hingga terkadang menimbulkan ketakutan-ketakutan sendiri di benak saya. Bagaimana kalau saya juga begini atau begitu? Suami biasanya akan menanggapi “ah kita itu terlalu banyak baca, tau, jadinya banyak ketakutan-ketakutan yang tidak perlu” …Hmm…kadang ada benarnya juga sih hehehe.

Waktu itu saya tidak pernah berfikir untuk melahirkan dengan cara c-section, apa itu? Itu kan cuma cara melahirkan artis-artis saja yang tidak mau merasakan sakit, tidak mau “longgar” dan kesannya cari mudahnya saja. Itu pikiranku sebelum akhirnya dokter kandungan saya memvonis bahwa saya tidak bisa melahirkan normal karena posisi Jiro yang sungsang-kaki dibawah- dan leher yang terlilit tali pusat. Sampai dengan keputusan c section dokter waktu itu, saya masih berfikir untuk normal saja. Kenapa? karena mamak ku juga melahirkan 6 anaknya dengan cara normal, begitu pula dengan 2 orang kakak  yang melahirkan 6 orang anak dengan cara yang sama dan dari membaca di internet melahirkan normal katanya jauh lebih sehat ketimbang c section.

Lalu kemudian akhirnya memang harus brojol dengan c section. Tanggal 27 malam di bulan Agustus 2008, saya diantar suami, mamak dan kakak  berangkat ke rumah sakit bersalin Ananda di Jl. Landak. Semua saya jalani dengan santai, sama sekali tidak ada ketakutan memikirkan besoknya akan operasi. Waktu itu jadwal operasi jam 6 pagi di keesokan harinya. Pagi sekali sekitar jam 5.30 saya  yang terbangun duluan. Suami, Mamak dan kakak saya masih tertidur. Saya lalu membangunkan mereka. Berjalan ke kamar operasi juga saya lakukan dengan santai. Sama sekali tidak ada keraguan dan ketakutan. Yang terlihat raut khawatir dan sedikit tegang justru suami dan mamak. Singkat cerita saya kemudian terbaring dan melahirkan.

Jika ada yang bilang melahirkan c section itu tidak sakit , itu bohong! Pada saat proses melahirkannya mungkin iya tidak sakit karena saya berada di bawah pengaruh bius lokal pada bagian perut kebawah, namun tunggu saja setelah 2 malam, perut bagian bawah rasanya seperti abis di tikam, disayat. Jangankan bangun, batuk/bersin ataupun tertawa menjadi siksaan. Ke toilet untuk pipis jadi mimpi buruk, karena posisi tubuh yang sulit ditekuk. Belum lagi anjuran dokter yang untuk segera mencoba berjalan dan tidak melulu berbaring untuk mempercepat proses penyembuhan luka katanya.

Kini Jiro sudah berumur 4 tahun 6 bulan (tepatnya di 28 februari nanti), dan saya hari ini sedang menghitung mundur menuju due date untuk melahirkan anak yang ke dua. Apa saya akan melahirkan normal kali ini? sepertinya tidak. Saya sudah menjadwalkan akan kembali c-section. Apa posisinya juga sungsang? sejauh hasil pemeriksaan terakhir posisi si baby normal. Apa ada komplikasi? not that i know. Lalu kenapa saya harus c-section lagi?

Rencana C section kali ini benar-benar murni karena keputusan kami berdua. Sebenarnya sempat berfikir untuk normal saja, namun pikiran itu kemudian urung setelah mendengar kejadian salah satu adik kakak ipar yang mengalami kesulitan dengan proses melahirkan normalnya yang kemudian berakhir c section juga. Pikirku kenapa nda dari awal saja yah langsung operasi?. Saya sih mau saja normal, tapi tidak mau ada drama-drama sebelum kejadian melahirkan. Misalnya 3 hari 3 malam tersiksa karena pembukaan yang itu-itu saja, atau pendarahan yang parah, kesakitan luar biasa sampai meraung-raung. Wedeh!! itu horror menurutku.

Alasan lain? ada..saya terus terang tidak punya pengalaman melahirkan normal karena Jiro C section juga, dan alasan yang mungkin orang anggap aneh dan mengada-ada adalah pikiran saya “kenapa juga harus lewat miss V? kan malu kalau diliatin apalagi di sentuh sama orang asing?” nah…aneh kan? tapi maaf memang itu juga yang selalu kepikiran.

Kamis depan adalah due date nya. sampai hari ini saya masih berkantor. rencana cuti adalah sehari sebelum tanggalnya. Permohonan cuti sudah dilayangkan, coaching stunt untuk kerjaan saya di kantor selama cuti juga sudah, tinggal menyelesaikan beberapa pekerjaan saja. Kemarin juga saya dan suami sudah room visit sekaligus reservasi ke RSIA Cathrine Booth. Senin depan rencananya akan bertemu lagi sekali dengan dokter kandungan sekalian menyerahkan hasil pemeriksaan lab persiapan operasi.

Tanggal 20 sore jam 6 saya sudah diharuskan datang ke Cathrine Booth untuk mulai persiapan. Koper persiapan melahirkan yang sudah terisi lengkap perlangkapan saya dan bayi kami juga sudah siap menunggu di angkat. Baby crib Jiro dulu pun sudah terpasang di kamar tidur kami tepat disamping ranjang. Dari hari ini sisa 4 hari lagi…Hmmm..saya berharap semua berjalan lancar..setidaknya tidak ada ketakutan dan saya bisa tenang, setenang menghadapi kelahiran jiro dulu.

Please remember me in your du’a teman..semoga semua dimudahkan dan dilancarkan oleh Allah SWT. Amiiiiiinnnn

ImageS

sumber foto: TEDx Makassar

 

Good Bye Supit

Standar
Melepas Supit....

Melepas Supit….

Umurnya sudah menginjak 7 tahun 4 bulan di Januari ini. Tidak muda lagi memang. Banyak suka dan duka pernah kami lewati bersama. Hujan, panas, mulus, berbatu, tanjakan dan turunan pernah kami lewati bersama. Meski tubuhnya sudah renta, dan kawannya sudah jarang terlihat, dia tidak pernah memberi kesulitan berarti buat kami.

Dia sudah bersama kami, saya dan suami sejak masa pacaran dahulu di tahun 2005 hingga kini kami telah menjadi keluarga kecil dengan Jiro dan adiknya yang ada dalam perut dan tinggal di rumah milik kami sendiri. Dia selalu setia menemani melintasi jalan-jalan di kota. Ke kantor, ke Mall, rumah sakit, bahkan ke kampung dan banyak tempat lainnya.

Dia menemani melewati fase-fase penting dalam hidup kami, pacaran, menikah, hamil, punya anak, hamil lagi. Tapi dia tidak akan untuk menemani melewati kelahiran anak ke dua kami. Ada rasa menyesal jika mengingat kurangnya perhatian yang kami berikan dulu. Seringkali ia ditinggalkan sendiri di luar terkena hujan dan panas tanpa perlindungan. Atau bahkan jarang memperhatikan kebersihannya… Tapi dia tidak pernah menyulitkan, hanya sesekali pada saat dia mungkin sedang jengah, letih hingga harus kami temani berjalan kaki.

Tadi pagi, dia sudah dibawa pergi oleh pak Satpam kompleks. Berat memang, namun sulit untuk menahannya tetap tinggal. Kini sudah ada yang menggantikan posisinya..Ada yang baru, yang menjadi pilihan suami saya dan juga saya tentunya.

Kami tidak mungkin mempertahankan mereka berdua. Kami harus memilih. Dan dia harus pergi..Supit maafkan kami..kami akan selalu mengenangmu…#alay

Supit (baca=Supra Fit) adalah motor bebek merek Honda berwarna hitam seri Supra Fit yang sudah kami miliki sejak pacaran dulu. Karena usianya yang tidak baru lagi, kami memutuskan untuk menjualnya. Tidak ada masalah pada mesin. Masih bagus. Masalahnya cuma sering terjadi pada ban yang selalu kempes. Apa karena velg atau apa tidak jelas juga.

Si Supit

Si Supit

Good bye Supit, kami tidak akan melupakan jasamu…#lebay.com

Jiro memecahkan Ipad!

Standar

Pagi tadi, dengan menenteng rantang tupperware susun 4 berwarna hijau muda yang berisi makanan Jiro edisi hari ini, saya dan Jiro yang menenteng Galaxy tab 10″ berjalan menuju rumah kakak saya. Dengan helm scoopy yang sudah terpakai di kepala, saya memandu Jiro untuk mempercepat langkahnya masuk ke dalam rumah. Di dalam ruang tamu kakak saya, Bonda (sebutan Jiro untuk kakak ipar/tante) sedang duduk di sofa sambil memainkan tasbih berwarna coklat..hmmm ritual dia setiap pagi.

Melangkah masuk lurus ke ruang tengah, rantang dan plastik susu Jiro saya letakkan diatas lemari pendek coklat dekat pesawat telefon. Bondanya Jiro mengikuti dari belakang sambil berkata “Kayaknya kita harus ganti Ipadnya bonda boss yang pecah dikasih jatuh sama Jiro tadi malam”. Duaaaaarrr…kaget dan shock. Seperti disambar gledek saya. “Ha!! Ipad? pecah? Koq bisa?” tanyaku sontak ke Bondanya Jiro. “Iya Ipad, tadi malam dia maini di Mallombassang”. Semalam memang Jiro dibawah kesana oleh Bondanya karena ada acara hari ke 100 meninggalnya Bapak Puang bapak dari ipar saya itu. Saya pun tadi malam terlambat pulang karena ada acara ulang tahun bos di kantor.

Saya tidak bisa banyak bicara, saking shocknya. ” Wiwi’ bilang nda usah ganti, tapi saya bilang nda papa. Kita bagi dua saja nanti” kata iparku lagi. Saya masih terdiam, masih kaget. Untuk mencairkan suasana, Bondanya Jiro menawari untuk mencicipi kue dalam dos putih yang ternyata kue Mabel dekat tempat saya tadi meletakkan susu Jiro. “Enak ini kuenya, lebih enak dari biasanya” kata iparku coba mengalihkan topik.

Ku arahkan pandangan ke wajah polos Jiro anakku. Sempat terlihat rona takut dan bersalah tergambar disana. “Jiro pecahkan Ipad bonda bos ya?” tanyaku dengan sedikit nada tinggi. Dia tidak menjawab, hanya mencoba memperbaiki duduknya dengan kikuk. Saya lalu duduk di sofa ruang tamu, masih dengan perasaan kacau. Astaga! Meskipun ipar saya bilang akan membantu saya untuk mengganti, tidak mungkin akan saya ijinkan. Dia sudah cukup repot dan terbebani menjaga Jiro mulai pagi hingga malam semenjak Nanny nya saya berhentikan November lalu.

Lunglai terduduk di sofa, Bondanya dan Jiro ikut duduk di sofa depan saya. Jiro duduk dipangkuan Bondanya. “Tadi malam Tetra (Kakak saya suami dia) juga kaget waktu tau Ipad itu pecah, Jiro minta-minta maaf” kata bondanya ke saya. Tidak lama kemudian terdengar deru suara motor Scoopy di depan car port tanda suami saya sudah datang menjemput. Saya lalu keluar dengan helm di kepala dan tas terkepit di ketiak.

Saya naik ke motor, dengan perasaan gamang. Sempat say dadah ke Jiro lalu bergerak pergi. Di atas motor, emosi saya tidak bisa terkendali lagi. Tangis saya pecah, sambil bercerita ke suami tentang insiden Ipad jatuh oleh Jiro. Suami saya tak kalah kagetnya. Diapun tak bisa berkata-kata lagi. Perut saya yang sedari tadi malam tegang karena kontraksi si kecil yang berusia 8.2 bulan, semakin terasa sakit. Mungkin dia juga ikut merasakan ketegangan saya.

Sebenarnya bukan apa-apa saya shock demikian. Saya membayangkan akan kembali merogoh tabungan persiapan melahirkan saya setelah seminggu lalu sempat berkurang dengan jumlah yang lumayan banyak, sementara due date saya sudah semakin dekat. Boro-boro nambah, malah akan jauh menyusut jika saya harus mengganti kerusakan Ipad Wiwi karena kecerobohan Jiro. Lagian semua tahu kan harga Ipad tergolong termahal dibandingkan jenis tablet-tablet lainnya. Apalagi ini yang rusak, pecah layarnya. Harga layarnya bisa setengah dari harga 1 unit baru. Perkiraan saya yah 3 sampai 4 jutaan pastinya.

Air mata saya tidak bisa terbendung, dada saya sesak, tenggorokan saya pun sakit karena menahan isak. Sesekali suami saya menyemangati dengan mengusap lutut saya yang menempel di sisi kirinya. “Sudahlah de’ maumi diapa, kita harus tanggung jawab memang, Jiro juga sih nda bisa liat gadget langsung mau maini. Kira-kira kalau di Makassar dimana itu bisa diperbaiki?” kata suami saya. “Kalau nda salah yah di Apple Store yang di Mall Mari” Jawabku. “Atau kita langsung singgah saja sekarang?” usul suami saya. Kami memang akan melaluinya seperjalanan saya ke kantor. “Mungkin belum buka kak, karena ini masih terlalu pagi” kataku. “Kalau begitu kita cek saja dulu di Internet harganya atau tanya-tanya ke Pak Stevent secara dia tahu banyak tentang Apple” usul suamiku lagi.

Setiba di kantor, masih dengan wajah yang kacau saya turun dari boncengan motor suami. Kekhawatiran juga nampak jelas tergambar di wajahnya. Namun seperti biasa, suamiku itu paling bisa menyemangati saya “Sudahmi dek nanti kita pikir sama-sama” ucapnya. Ia lalu pamit pergi meninggalkan saya di halaman kantor.

Sesampainya saya di meja kerja. Saya langsung memencet tombol ekstensi nomor ruangan Pak Stevent..206..tapi eh ternyata saya salah, yang terdengar di ujung line adalah Afdhal teman saya di ruangan atas juga. Yang terpencet tadi ternyata adalah 208. Kucoba kembali memencet 206. Tapi tak ada yang mengangkat. Kuletakkan gagang telepon lalu meng klik tab baru di layar google crome komputerku. Saya mencoba mencari informasi harga layar Ipad. Ada banyak link diberikan oleh mbah Google. Saya lalu bertanya dalam hati. Ipadnya itu Ipad berapa yah? satu atau dua?.

Agar tidak mereka-reka dan salah, saya lalu mengirimkan bbm ke kakak saya “Ipad nya Wiwi itu Ipad berapa? Masih Garansi atau tidak?” berondong saya. Saya tidak langsung mendapat jawaban karena ternyata koneksi BBM lagi jelek dan masih pending. Saya kembali mencoba menghubungi Pak Stevent diatas sana. Dia bilang setahu dia harganya sekitar setengah harga barunya yah mungkin 3,5 sampai dengan 4 juta katanya. Semakin ciut hati saya mendengar informasi harga ini. Tabungan saya, tabungan melahirkan saya akan langsung berkurang hampir setengahnya, keluhku dalam hati. Padahal kami masih sedang mengusahakan untuk mencari tambahannya….T_T

Tak lama kemudian lampu BB saya berkedap-kedip merah. Segera kubuka, ternyata kakaku menjawab berondongan saya tadi.

Kakak: “Kenapaki?, ituji yang tak 900 ka. Nareppeki (dipecahkan) tawwa JIRO. Apakah itu mereknya. Tidak Garansimi” jawab kakaku panjang.

Saya: “Ya Allah..ta’bangkama (kaget)  saya..ka bukanji pade Ipad. Saya baru masuk pintu tadi langsung bondanya bilang haruska’ mengganti Ipadnya wiwi yang dipecahkan jiro”

“Langsung ka’ Shock!”

“Akan berkurang banyak lagi tabungan melahirkanku”

“Saya berfikir tadi mau tukar saja sama Galaxy Tabku, padahal jauh pale harganya. Punyaku itu Second ji saya beli dulu tapi harganya 4.2 Juta”

“Mau di brief dulu itu bondanya tentang pengenalan merek” kataku panjang.

Kakak: “Tablet biasaji, yang harga 900an atau 1 jutaan ji”

“Iya…kan istilah umum yang mereka tau itu Ipad, singkammai (sama) dengan Aqua” jelas kakakku sedikit membela isterinya.

Lega dan juga dongkol, saya masih bbman dengan si kakak, untuk coba mencari tahu apa merek dan spesifikasinya. Saya akan mencoba mencari di MTC. Pasti ada banyak di jual disana. Tak lupa saya mengabari soal ini ke Suami saya. Dia juga sedikit lega mesti toh kami tetap harus mengusik lagi tabungan melahirkan saya, tapi setidaknya tidak sebanyak yang kami takutkan. Mungkin besok atau lusa setelah mendapat kepastian mengenai merek dan spesifikasi tablet (yang bukan IPAD itu!!) sudah dapat, kami akan mencari gantinya di MTC.

Seandainya saja, si Bonda mau lebih teliti dan seksama melihat dan mencari tau apa merek betulan tablet itu sebelum mengabari saya, mungkin saya tidak sekaget tadi. Nama besar brand suatu produk yang kadang terasosiasi ke produk-produk sejenis menjadi sebab kepanikan saya tadi….Yah wess lah..sudah nasib kami mungkin pagi ini sedang tidak beruntung….

TEDx Makassar: Communities for Changes (Bag.1)

Standar

Ted2

Tahun 2012 adalah tahun ketiga BaKTI sebagai pemegang lisensi TEDx Makassar menggelar event inspiratif dan keren ini. Kalau tahun pertama bertema Creative Communication dan tahun kedua Inspiring Youth, di tahun ketiga ini tema yang di usung adalah Communities for Change.

Jika 2 event TEDx Makassar sebelumnya diadakan pada malam hari di backyard kantor BaKTI, kali ini venuenya berpindah ke Museum Kota Makassar yang berlokasi di Jl. Balaikota. Buat saya sendiri, ini pengalaman pertama berkunjung ke museum yang dulunya adalah Kantor Walikota Makassar sejak jaman kemerdekaan dan resmi menjadi Museum kota tahun 2000. Biasanya Cuma lewat-lewat saja.

Bangunan megah berlantai dua dengan gaya arsitektur colonial Belanda abad ke 17 di pagi yang basah setelah diguyur hujan semalaman itu ramai dijejali anak-anak muda Makassar dari berbagai komunitas. Saya sendiri tiba dengan motor, dibonceng oleh suami pukul 8 kurang 15 menit. Kedatangan saya disambut oleh umbul-umbul besar berdasar putih berhuruf merah dengan tulisan besar TEDx Makassar. Sekedar informasi, umbul-umbul itu saya yang design hehe. Memasuki halaman Museum kota yang lebarnya hanya sekitar 5 meter, saya disambut oleh sebuah meriam kuno yang sudah terkelupas dan berkarat, menunjukkan usianya yang sudah bertatus-ratus tahun saya kira. Meriam kuno itu tergeletak dengan moncong mengarah ke barat.

Ted
Terlihat beberapa anak-anak muda berwajah oriental dengan kostum celana barongsai dan kaos biru sedang sibuk berlatih gerakan dan juga formasi. Dua pasang anak muda tadi masing-masing mengangkat satu teman lainnya dengan lincah, hup..hup. Saya segera melangkahkan kaki masuk ke sebuah pintu besar . Disana sudah banyak teman-teman panitia yang sudah tiba sejak pagi tadi. Mereka sudah terlihat letih, jelas dari wajah-wajah mereka yang berpelu.

Afdhal teman saya menghampiri dan bercerita kalau mereka baru saja bersama-sama membersihkan ruangan museum ini karena sebelumnya saat pagi sekali mereka tiba, lantai masih kotor berdebu dan beberapa barang masih bergeletak tak beraturan. Sebuah tali pembatas membentang di pintu depan untuk menghalau peserta yang belum boleh masuk sebelum acara dimulai. Meja merchandise berupa kaos hitam dan putih bertulisakan judul acara ini sudah tertata rapi di meja kokoh kayu di sudut ruangan sebelah kanan dengan Melly teman saya dibelakangnya sebagai petugas jaga.

Ruangan ini gelap, hanya cahaya dari pintu utama yang menerobos masuk. Tampak beberapa lampu bergantung di langit-langit tapi tidak dinyalakan. Tepat ditengah ruangan ada sebuah etalase kaca yang berisi 2 kepala Barongsai. Saya lalu bertanya dalam hati, ini isi museum kota atau property komunitas Barongsai yang akan tampil tadi yah?. Semua teman panitia tampak sibuk lalu lalang mempersiapkan semuanya. Ningsih dan Nora berjaga di meja registrasi, Ibu Lena yang hari itu membawa serta putrinya Sesi juga tampak sibuk berkordinasi. Ita terlihat masih memegang sapu didalam sebuah ruangan disebelah kiri tangga kayu yang ujungnya bercabang ke kiri dan kanan. Mila tampak berpelu dengan tetap menenteng kamera DSLR nya di tangan.

Semua tampak sibuk, karena ternyata beberapa perlengkapan teknis masih belum rampung karena semalam tidak bisa terselesaikan karena kendala penerangan yang tidak tersedia. Nah loh..ternyata menurut cerita teman-teman, Museum Kota ini harus berbagi listrik dengan kantor yang ada dibelakangnya. Alokasi daya sendiri untuk Museum tidak banyak karena dianggap tidak memerlukannya. Sekarang ketahuan sudah, kenapa beberapa peralatan elektronik semisal lampu di ruangan masuk dan AC tidak bisa dinyalakan. Pintu utama yang satunya lagi sudah coba dibuka untuk mendapatkan tambahan cahaya, tapi nihil sulit terbuka. Jadilah kami bekerja hilir mudik di ruang yang temaram.

Dalam ruang yang menghubungkan tangga dan ruang utama tadi terdapat sebuah lemari kaca besar ditengah tepat di depan tangga kayu bercabang tadi. Di tembok kiri dan kanannya terdapat pajangan foto-foto yang menunjukkan kota Makassar tempo dulu, menarik tapi sayangnya tidak ada keterangan tempat itu sekarang jadi nya jalan apa, jadi tidak ada bayangan dalam kepala. Beberapa gerabah juga terpajang dibawah foto-foto tadi.

Kiri kanan atas ruang voye terdapat jendela-jendela besar khas abad 17 dengan kusen kayu bercat coklat tua. Tangga sudah dilapisi dengan karpet merah dibagian bawah dan kain putih diatasnya. Beberapa sandal dan sepatu tampak teronggok didasar anak tangga pertama. Oh jadi tidak bisa memakai sepatu ke atas pikirku. Kucoba naik, tangga ke kanan terblok dengan standing banner kegiatan ini dengan bentangan kabel besar ditengahnya. Berbelok kekiri, naik lalu tiba diatas berhadapan dengan sebuah pintu besar kokoh dari kayu. Pintu inipun tertutup, ternyata kami diarahkan berbelok ke kanan kesebuah lorong yang panjangnya 4 meter dengan dinding kayu kiri kanannya.

Ted8
Tampak di dinding kayu itu sudah terpasang rapi vinil putih tempat menuliskan kesan penonton event ini, sedang di dinding satunya lagi ada vinil lain yang disiapkan untuk menempelkan hasil sketsa komunitas sketsa yang turut berpartisipasi mengabadikan beberapa angle menarik acara berlangsung.

Ternyata melangkah kedalam, belum merupakan tempat kegiatan, tetapi sebuah ruangan lain yang mengarahkan ke ruang besar yang tadi pintunya tertutup sebelum masuk ke lorong. Di ruangan ini kain putih masih membentang di atas karpet merah menuju kea rah kiri. Disebelah kanan oleh Abdi dari komunitas kreatif Kiri Depan sudah dihias dengan sebuh meja yang disulap persis seperti meja jualan di pasar local. Ada pisang, wortel, kentang, jagung, bawang merah, dan penyedap rasa yang ditata bergelantungan. Didepan etalase yang berisi menakin dengan balutan pakaian adat juga terdapat kereta bayi berbungkus kertas dan replica pemain bola dari sterofoam.

Dekat jendela sebuah etalase besar yang lain berisikan seragam putih polos khas Walikota bertuliskan nama Walikota pertama Makassar. Di sudut lain ruangan sebelah kiri, sudah siap 2 kursi putih dengan latar dinding berlapis kain warna senada beserta huruf huruf besar dari sterofoam merah bertuliskan TEDx. Spot khusus yang disiapkan untuk para penonton yang ingin mengabadikan kehadiran mereka dalam event ini.

Ini saya dan Hamdi

Ini saya dan Hamdi

Sekitar jam 9 pagi, pelataran museum semakin ramai oleh anak-anak muda Makassar yang menunggu aba-aba panitia untuk segera masuk. Mila terlihat memberi kode ke beberapa teman untuk segera saja memulai agenda pertama acara pagi ini dengan pertunjukan Barongsai. Suara music tetabuhan mengiringi 2 barongsai yang mulai beraksi. Semua terpukau kagum. Kapan lagi bisa menyaksikan Barongsai diluar hari raya imlek dan cap go meh kalau bukan hari ini hehe

Sekitar 15 menit 2 barongsai beraktraksi, peserta kemudian di arahkan masuk satu persatu. Peserta kemudian registrasi dengan menunjukkan tiket dan mengambil goody bag berwarna hitam berisi banyak pernik bertema event ini yang sudah disiapkan panitia.
Saya bertugas mengarahkan peserta naik ke ruang kegiatan. Takutnya mereka nyasar berbelok ke kanan dan bukannya ke kiri heheh..nda mungkin kali yah soalnya sudah terpalang standing banner. Satu persatu peserta naik, beberapa ada yang menyempatkan melihat-lihat foto sambil menunggu temannya. Tapi berhubung acara sudah akan dimulai, saya kembali menginformasikan agar segera saja naik.

Peserta menyempatkan melihat gambar kota Makassar tempo dulu

Peserta menyempatkan melihat gambar kota Makassar tempo dulu

Setelah semua peserta duduk di kursi masing-masing. Duo Mc Dilla dari Rumah Ide dan Juga Mawar salah seorang penyiar Radio Prambors membuka acara pagi itu yang dihadiri sekitar 120an orang dari berbagai komunitas di Makassar. Dua Video presentasi TED yang pernah dilaksanakan di Amerika sana diputar untuk mengawali acara. Salah satu video yang paling membuat terenyuh adalah video yang speakernya adalah seorang perempuan oriental bernama Candy Chang. Judul presentasinya adalah Before I Die I Want to….

Ted6
Di video ini Candy Chang bercerita tentang bagaimana ia berusaha memaknai hidup dengan berinteraksi, berbagi, bercerita dengan orang sekitarnya melalui media-media komunikasi sederhana yang kreatif sebelum kematian datang menjemput. Sesekali Candy Chang menyeka air matanya saat bercerita, yang membuat saya juga bergidik terharu.

Ada juga video tentang bagaimana Charlie Todd bersama teman-temannya membuat kehebohan, aneh, lucu, dan tidak terduga di tempat umum misalnya menggunakan kostum penangkap hantu atau bahkan tidak menggunakan celana di tempat umum dengan tujuan untuk mengakrabkan orang-orang. Terkesan konyol dan sepintas terlihat hanya salah satu bentuk keiisengan tetapi ternyata maknanya cukup dalam. Ditengah kehidupan yang individualistis saat ini, kekonyolan seperti ini mampu memaksa orang untuk saling berinteraksi hingga menjadi akrab satu dengan yang lainnya.

Setelah pemutaran dua video inspiratif berturut-turut, tiba giliran pembicara pertama untuk maju kedepan membagi ide-ide positif komunitasnya. Pembicara pertama adalah Sartika Nasmar dari komunitas Qui-qui. Gadis manis, imut bertubuh kecil ini tidak tampil sendiri. Dibelakangnya 3 orang perempuan mengambil tempat duduk sambil memainkan jarum rajut beradu dengan benang berwarna-warninya. Kehebohan sempat menyeruak kala satu orang anggota komunitas ini sedikit terlambat naik ke panggung. Seorang cowok gondrong yang juga akan ikut merajut bersama 3 perempuan lainnya. Sorak sorai kagum memenuhi ruang lantai dua Museum kota. Namanya Barak, ia satu-satunya anggota komunitas ini yang berjenis kelamin laki-laki .

Komunitas saya, Quiqui yang keren

Komunitas saya, Quiqui yang keren

Bersambung…

Sumber foto: http://www.facebook.com/TEDxMakassar/photos_stream

Racak Mangga, Asem-Asem Menggoda

Standar

Kalau anda orang Makassar, atau lama berdomisili di Makassar salah satu sajian pendamping lauk ini pasti tidak asing lagi. Racak mangga yang juga berarti rajangan atau cacahan mangga adalah menu khas Makassar yang biasanya dijadikan teman pencocol ikan pallu ce’la ataupun ikan asin. Jenis mangganya haruslah mangga yang masih muda. Kenapa muda? karena mangga muda rasanya pasti asam. Nah ikan pallu ce’la sendiri atau ikan masak garam dari namanya saja sudah ketahuan pastilah rasanya asin. Cara masaknya pun sangat mudah. Ikan hanya direbus dengan air, diberi garam agak banyak, kunyit bubuk dan penyedap rasa jika suka.

Cara penyajian racak mangga sangat sederhana, rajangan mangga muda cukup diberi garam halus dan sedikit air putih. Diremas sedikit lalu siap di santap bersama ikan pallu ce’la/ikan asin. Kalau butuh tambahan sensasi pedas, akan terasa lebih nendang jika beberapa biji cabe rawit ditindis dalam piring racak mangga ini. Atau kalau tidak mau repot meramu, kuah dari Pallu Ce’la tadi bisa disiramkan pada racak mangga ini. Ada juga yang menyarankan untuk mencampurnya dengan kemiri bakar yang sudah dihaluskan untuk memberi efek gurih. Tapi kalau saya sendiri dan kebiasaan di rumah biasanya tidak perlu menambahkannya karena akan terasa eneg.

Racak mangga adalah salah satu makanan penggugah selera yang turut andil dalam proses tumbuh kembang saya (lebay yah?), istilahnya kalo dalam bahasa Makassar “Anjoji pakalompoa” yang artinya itulah yang membesarkan saya. Bingung kan? Hehe..Bukan apa-apa soalnya sedari kecil di rumah kami menu ini selalu tersedia meski menu lainnya ada. Mungkin karena alasan murah meriah kali yah. Waktu sekolah dulu, suka protes ke Mamak, saking seringnya nih menu mejeng di meja makan. Bukan apa-apa, kita yang dulu masih ABG orientasi makanan enaknya yah goreng-gorengan, begitu buka tudung saji sepulang sekolah nemu itu-itu lagi, racak mangga dan pallu ce’la lagi. Tapi eh begitu sudah besar dan berkeluarga, racak mangga selalu dirindukan jika beberapa waktu tidak tersaji diatas meja.

Racak mangga biasanya juga paling enak jika dihidangkan dengan sayur bening dedaunan. Misalnya sayur bening kelor dicampur terong. Beh! Rasanya iler saya sudah mau jatuh membayangkannya. 😛

Untuk orang luar Makassar, mungkin makan mangga kecut dengan nasi akan terasa aneh. Tapi bagi kami, ini menu yang sangat nikmat menggugah selera. Utang bisa ikut terlupa kalau menikmati sajian khas nan sederhana ini. Di beberapa tempat makan yang menyajikan ikan bakar sebagai menu andalan, biasanya racak mangga juga tersedia selain sambel kacang dan sambel-sambel lainnya.

Nah untuk anda yang belum pernah mencicipi, tidak salah kalau anda coba. Rasanya asem-asem menggoda :).

Nb:Foto menyusul deh 🙂

BaKTI di tengah Surga Kuliner

Standar

Sejak bulan Juli 2012, kantor saya BaKTI pindah alamat ke Jl. Andi Mappanyukki No. 32 dimana sebelumnya kami berlokasi di Jl. Dokter Sutomo No. 26 pas samping SD Mangkura. Sebenarnya kami dan beberapa pengunjung BaKTI sangat berat meninggalkan kantor lama. Bukan apa-apa, kami terutama saya merasa kebutuhan ruang untuk mengakomodasi kegiatan kerja BaKTI terpenuhi di kantor lama itu. Gedung berlantai dua dengan gaya arsitektur peninggalan Belanda itu selain memiliki banyak ruangan, disana juga terdapat backyard atau halaman belakang yang sering menjadi tempat kegiatan dengan konsep outdoor, dan terus terang itulah fasilitas unggulan jualan kami selain ruang meeting indoor.

Berpindah ke Jl. Mappanyukki depan Rumah Sakit Bersalin Restu, kami tidak lagi memiliki Backyard, hanya ada beberapa taman kecil yang terletak di antara beberapa ruangan. Kini taman-taman itulah yang dipakai pengunjung yang membawa laptop jika ingin mengakses internet atau mengerjakan hal lainnya. Namun untuk kegiatan pertemuan, pemutaran film, diskusi yang biasanya dilakukan di backyard terpaksa harus dilaksanakan di ruang meeting tertutup.

Untuk menghibur diri, kami lalu mencoba mencari-cari hal-hal menarik, keistimewaan kantor yang baru. Hmm.. selain posisi yang masih strategis dari segi akses karena masih terletak di pusat kota, keistimewaan lainnya adalah BaKTI berada ditengah-tengah surga makanan. Disekitar kantor BaKTI banyak terdapat tempat-tempat makan yang sudah terkenal karena enaknya.

Sesuai dengan judul postingan ini yaitu BaKTI di tengah Surga Kuliner, mari kita coba membahas satu persatu (wah seperti mau bikin makalah yah hehe). Berhadapan dengan RSB Restu, disamping kanan pintu gerbang BaKTI ada warung tenda Ulu Juku. Ulu Juku ini menyajikan masakan khas berbahan utama kepala ikan yang dimasak dengan kuah asam berwarna kuning atau disebut Pallu Mara dan juga ada yang dimasak dengan kuah santan atau Gulai. Kepala ikan yang digunakan dari jenis ikan Kakap Merah.

Selain di badan jalan Mappanyukki, di dalam lorong tidak jauh dari tenda tadi juga terdapat rumah makan Ulu Juku yang lain. Menu yang ditawarkan pun kurang lebih sama. Untuk yang kurang nyaman makan di pinggir jalan dengan hanya berlindung pada helai kain tenda, warung ini cukup mengakomodasi. Ada yang bilang bahwa pemilik warung yang di dalam dan luar itu masih keluarga juga. Mengenai harga, seporsi kepala ikan dengan isi sebelah bagian kepala-jika ukurannya besar-dan satu kepala utuh yang terbelah cukup hanya dengan membayar Rp 25.000 saja. Harga ini menurut saya jauh lebih murah ketimbang harga rumah makan sejenis di daerah Pettarani sana.

Didalam lorong yang sama dengan warung Ulu Juku yang hanya berjarak 10 meter dari kantor BaKTI, juga terdapat warung makan lain yaitu warung Tunjuk-tunjuk. Kurang jelas juga kenapa namanya Tunjuk-tunjuk, tapi perkiraan saya mungkin karena dari cara memilih menunya dengan cara ditunjuk oleh para pembeli untuk diambilkan oleh pelayan warung ini. Menu makanan yang ditawarkan di warung ini sangat akrab di lidah, kenapa? karena menu-menunya adalah makanan yang sering kita dapati di rumah. Tidak ada menu spesifik yang diandalkan atau menjadi menu jualan utama di warung ini. Tepatnya menunya adalah makanan rumahan, sebut saja nasi, ikan goreng, ikan masak kuah asam, sayur santan/bening/cah, telur balado, perkedel udang/jagung, acar mangga atau timun, gorengan tempe/tahu dan tidak lupa sambel atau cobek-cobek.

Cara penyajiannya pun cukup unik. Pemilik warung hanya meletakkan masing-masing menu berjejer didalam lemari bening bertingkat 3. Pembeli dipersilahkan mengambil sendiri menu yang disukai-jika penjaga warung sedang repot- setelah itu mengambil tempat duduk dijajaran meja dalam ruangan yang tidak begitu luas dan minuman akan diantar oleh pelayan warung. Kebanyakan pembeli di warung ini adalah pekerja-pekerja kantoran yang berlokasi disekitar Mappanyukki ini. Sebut saja, karyawan bank Mandiri, Bank Panin, Bank Sulsel, dan kantor-kantor diseputaran Ratulangi dekat ujung jalan Ketilang. Mengenai harga jangan khawatir, bahkan sudah nambah nasi pun kadang harga masih mencengangkan, mencengangkan murahnya maksud saya. Dengan menu lengkap saya pernah hanya membayar Rp 10.000 saja sudah termasuk minum. Wah sudah akrab di lidah, enak di perut, ramah di kantong pula’ hehehe.

Oh iya di samping kanan lorong ini juga ada warung tenda coto. Biasanya ramai dikunjungi dan buka pada pagi hingga siang hari. Kalau soal rasa dan harga saya kurang tahu karena saya belum pernah menyicipinya. Tapi kalau lihat jumlah pengunjung dari banyaknya motor yang terparkir di depan warung ini saya kira lumayan lah.

Melangkahkan kaki beberapa meter dari warung coto tadi, kita akan menemukan etalase berpayung besar di emperan sebuah rumah. Warungnya diberi nama Warung Gerobak Hijau. Entah karena etalase yang berwarna hijau atau karena warung ini menyediakan Es pisang hijau sebagai jualan utama. Selain pisang hijau, warung ini juga menjual es buah. Pembeli bisa makan di tempat, dibawah payung besar tadi atau bisa juga bungkus bawa pulang. Saya sudah mencoba es buahnya yang berisi irisan buah nangka, pepaya, potongan cincau, biji mutiara dan yang membuat rasanya lebih istimewa adalah tambahan serutan alpukat.

Untuk kuah dari rasanya seperti perpaduan antara sirup DHT dan susu putih beserta bongkahan-bongkahan kecil es batu kristal. Hmm kebayang kan segar rasanya, apalagi dinikmati siang hari terik. Seporsi es buah cuma dihargai Rp 8.000 saja per gelas nya. Untuk pisang hijau juga Rp 8.000 per bijinya.  Penjualnya adalah seorang laki-laki berumur sekitar awal 30 an, selain menjual si abang ini sering terlihat menyiapkan bahan es buahnya sendiri sembari menunggu pembeli, misalnya memotong-motong buah.

Diseberang jalan tempat penjual es pisang hijau tadi mangkal dengan posisi yang sudah hampir mendekati perempatan jalan Mappanyukki dan Kutilang, kita juga bisa menemukan 2 warung mobile yang berjualan tiap harinya. Satunya adalah mobil penjual nasi kuning dan satunya lagi gerobak yang menjual berbagai macam penganan penyegar leher dahaga, sebut saja bubur bassang, es cendol, es buah dan es kelapa. Harga per porsinya pun sangat murah. Segelas es cendol hanya Rp 3.000 saja, Es Kelapa Rp. 5.000 dan untuk yang lainnya saya kira tidak jauh beda. Soal rasa, cocoklah dengan harga yang murah meriah itu.

Kalau tadi kita menyusuri tempat makan yang berada disamping kanan kantor BaKTI, sekarang kita coba bergerak ke arah samping kiri. Sekitar sepuluh meter dari gerbang BaKTI, tepat disudut perempatan jalan Mappanyukki dan Merpati kita akan menemukan sebuah warung dalam ruko berlantai 3 yang hiruk pikuk karena ramainya pengunjung dan riuh suara pengamen yang sedang bernyanyi. Yah warung ini adalah warung bubur ayam Mba Sri.

Terletak disudut jalan, kian menambah strategis posisi warung ini dengan arus pembeli dari arah Ratulangi ke Merpati dan Cenderawasih ke Merpati. Selain menata meja didalam ruko, Mba Sri-pemilik warung ini- juga menyediakan meja yang diletakkan berderet di sepanjang samping ruko sebelah kanan menuju arah kantor BPD. Menu yang ditawarkan selain bubur ayam adalah bubur ketan hitam berkuah santan kental dan juga bubur kacang hijau. Menu yang paling top tetaplah bubur ayamnya. Semangkok bubur ayam terdiri dari campuran bubur beras putih, suwiran daging ayam, kacang kedelai goreng, irisan cakwe, serta daun bawang dan bawang goreng sebagai garnish. Semangkok kecil kerupuk dan sate hati ampla juga siap untuk menemani hidangan bubur ini.

Warung ini tidak pernah sepi pembeli terlebih pagi hari sekitar jam 8 sd jam 10 siang. Kebanyakan pembelinya adalah juga pekerja kantoran yang terletak di seputaran jalan Mappanyukki, Ratulangi dan Cenderawasih. Hari paling ramai adalah hari jumat pagi. Di hari ini, pembeli didominasi oleh orang-orang yang berpakaian batik atau berpakaian olah raga. Mba Sri sendiri yang bertindak sebagai kasir di warung ini. Seringkali dia melayani pembeli sambil mengasuh anaknya yang masih berumur kurang lebih 1 tahun dalam kereta bayinya. Oh iya, harga seporsi bubur di warung ini hanya Rp 7.000tidak termasuk sate dan minumannya. Murah kan?

Dibelakang warung Mba Sri, masih di jejeran ruko yang sama namun terletak di jalan Merpati, kita akan mendapati sebuah warung coto lagi. Warung coto yang ini adalah warung coto cabang jalan Nusantara yang terkenal itu. Dibandingkan dengan yang di Jl. Nusantara, cabang ini tidak terlalu ramai, jadi tidak sulit untuk menemukan kursi. Pelayanannya pun termasuk cepat, tidak sampe 5 menit pesanan sudah terhidang di meja. Seperti tipikal warung coto lainnya, asap pembakaran kayu untuk memasak kuah coto terkadang menyeruak masuk ke dalam ruangan yang berukuran kurang lebih 8 x 7 meter ini. Keringat bercucuran bukan hanya karena nikmatnya melahap coto dan paduan ketupat tapi juga karena gerah dan panas dari tungku pembakaran tadi. Semangkok coto Nusantara ini dihargai Rp 11.000 saja dan untuk ketupatnya seharga Rp 1.000. Jika menambah kacang goreng hitungannya lain lagi. Untuk minuman berupa air es tidak perlu dibayar, hanya minuman kemasan lain yang harus dibayar semisal air mineral dan teh botol.

Coto Nusantara

Berhadapan dengan warung coto Nusantara adalah sebuah warung sederhana berdinding kayu dan ditutupi tenda kain yang tidak bersih lagi yaitu warung makan Sop Saudara dan Ikan Bakar. Ikan bakar yang ditawarkan setahu saya adalah ikan bakar Bolu dengan ditemani sambel kacang, irisan ketimun dan daun kemangi. Saya tidak tahu lagi berapa persisnya harga seporsi sop saudara dan sepotong ikan bakarnya. Terakhir kesini sekitar 3 tahun yang lalu. Tapi warung ini, seperti warung makan lainnya di seputaran jalan Mappanyukki dan Merpati juga selalu ramai dikunjungi pembeli. Ternyata pemilihan lokasi di sekitar tempat ini untuk berjualan makanan adalah keputusan tepat.

Meninggalkan Warung Sop Saudara tadi, masih di jalan Merpati ada sebuah warung lagi yang juga terkenal karena kelezatannya. Selain lezat juga murah. Warung itu adalah warung Marem. Warung ini adalah warung cabang dari warung bernama sama di bilangan jalan Boulevard di Panakkukang Mas sana. Warung dengan tipikal masakan Jawa ini terletak di sebelah kiri dari arah perempatan Mappanyukki Merpati. Tepat disamping gerbang perumahan Mewah Merpati, warung ini tergolong paling bersih diantara warung yang sebelumnya kita bahas. Bisa jadi karena bangunannya termasuk baru atau karena memang pengunjungnya tidak sehiruk pikuk di warung Mba Sri dan Coto Nusantara.

Warung Marem ini menjual makanan khas Jawa berupa Nasi Pecel, Gado-gado, Soto Ayam dan beberapa menu lainnya. Namun yang menjadi menu andalan warung ini adalah Nasi Pecelnya. Karena kenikmatan menu andalan ini, Marem memperoleh penghargaan sebagai Most Favourite Award Culinary 2010 yang digelar Majalah Makassar Terkini bekerjasama dengan Makassar Research tahun 2010 lalu. Saya sudah pernah mencicipi Gado-gadonya sekali dengan harga cuma Rp 11.000. Menurut saya memang enak dan teman lain yang saat itu mencoba Nasi Pecal dan Sotonya pun berpendapat sama. Dengan disajikan diatas piring yang terbuat dari jalinan lidi beralaskan daun pisang, menambah artistik tampilan tumpukan sayur, tempe dan saus kacang Gado-gado saya waktu itu.

Nah, itu tadi beberapa tempat makan yang ada diseputaran kantor baru BaKTI. Semua bisa dicapai dengan hanya berjalan kaki dan yang paling penting adalah harganya ramah di kantong. Pokoknya kalau ke BaKTI tidak sulit mencari makan. Bermacam-macam pilihan tersedia, tinggal pilih suka yang mana, dari yang ringan sampe yang berat, kering dan juga berkuah. Tidak salah kan kalau saya bilang BaKTI berada ditengah surga kuliner. 🙂